Wisata Jepang
Comments 4

Nagoya: Pusat Perbelanjaan Osu Kannon

Setelah bosan mengitari lahan Kuil Osu Kanon yang mungkin sekitar 40×30 meter itu (kayaknya luas lahan sebesar PUSDAI Bandung), kami memasuki sebuah lorong di samping kuil. Di dalam lorong ini, pertokoan memanjang hingga ke ujung jalan sana. Bermacam-macam toko. Ada toko es krim, kebab, restoran, suvenir, pakaian, dan kimono. Toko 100 yen juga ada. Dan sedihnya, jauh-jauh ke Nagoya, toko 100 yen inilah yang pertama kali kami kunjungi.

Mari kita abaikan orang yang emang mukanya nggak ada pilihan lain selain kita abaikan ini. Saya cuma mau menunjukkan kalau tempat lorongnya disana tuh, kiri atas gambar.

Di ujung mulut lorong tidak jauh tempat makan burung, terdengar bunyi kerincing-kerincing. Setelah sampai ujung lorong, tampak pria berpakaian biksu berdiri di sana memegang mangkok kecil dan kerincingan. Pertama-tama, saya dan teman-teman (para daun) berpikir kalau ini biksu yang minta sumbangan. Kayak yg sering kita temui di tengah jalan besar di Indonesia itu loh, di depan masjid. Atau kemungkinan kedua adalah pengemis yang memakai kostum biksu mengambil kesempatan disana, mumpung dekat kuil, biar pas, pake kostum gitu. Namun, kemungkinan ini agak nggak mungkin. Soalnya di lorong yang satu lagi (ada dua lorong pusat perbelanjaan) juga ada pria berpakaian sama. Tadinya pengen berfoto sama ini orang dan baru ngasih duit, tapi kayaknya difoto sungkan ini orang

Belakangan saya tahu dari Ujihira-sensei (dosen bahasa Jepang saya yang sekarang), bahwa kedua tebakan kami tadi tidak sepenuhnya salah. Ujihira-sensei cerita bahwa untuk biksu diharuskan memunculkan sikap merendah. Nah, calon biksu dilatih untuk menimbulkan sikap ini dengan menjadi pengemis. Jadi biksu ini disuruh meminta-minta di tempat ramai. Bukan uang (katanya sensei), tapi benda-benda gitu. Tapi kayaknya uang juga nggak papa deh, tuh dia bawa mangkok gitu kan.

Ujung Pasar dekat Kuil

Ujung Pasar dekat Kuil dan Biksu yang Berdiri disana

Osu Shopping Arcade, begitu nama pasar ini menurut halaman japan-guide.com yang membahas tentang Osu Kannon Temple. Katanya pula, shopping arcade ini dibandingkan dengan pusat perbelanjaan di Akihabara, Tokyo, karena banyak toko yang menjual barang elektronik dan perlengkapan cosplay, anime, dan barang idol. Terdapat sekitar 400 toko disini.

Namun, perasaan nggak begitu banyak ah toko barang elektronik dan toko animenya. Toko cosplay liat satu, cuma kecil dan aneh gitu. Toko actioan figure juga cuma nemu satu, kecil, dan nggak ada gundamnya. Toko elektronik mungkin ada beberapa kali ya, cuma yang saya masuki hanya toko kamera. Nemu Kak Dewi dan Bu Dina yang duluan kesana. Oh ya, di toko kamera ini saya nemu lensa kamera yang harganya 500.000 yen. Yup, tidak salah itu jumlah nolnya. Ukurannya segede gaban. Buat ngelempar harimau, kalau kena, mati kayaknya. Sayang saya nggak foto, di toko sih, ntar dimarahin.

Saat menyeberang jalan di tengah panjangnya pasar (foto di atas), tiba-tiba ada orang yang mengucapkan salam. “Assalamualaikum brother”. Agak kaget juga. Pria itu pun menyodorkan sebuah brosur restoran India Nepal. Menjelaskan kalau daging disana halal semua. Wah, menarik kan. Sudah siang juga kan. Tadinya mau makan kebab langganan Kak Dewi, tapi orang Indonesia kan pengennya nasi. Jadi, pilihannya sudah jelas.

Pasar Osu Kannon

Pasar Osu Kannon (Ditandai dengan spidol hijau)

Salah satu toko yang kami masuki adalah toko jam (dan tas). Ibu-ibu beli tas. Saya cuma liat-liat jamnya. Liat doang. Eh ditanyain sama mbak-mbaknya.. “Oniisan… Untuk suvenir atau sendiri?” (tentu dengan bahasa Jepang) Err… Saya belum punya jam sih, dan kayaknya butuh untuk ujian ntar, jadi ya udah sekalian survei. Saya ditawari jam yang gak butuh baterai, pakai tenaga gerak gitu. Menarik juga sih, dilihat-lihat, dipegang-pegang. Tapi akhirnya tuh mbak dikit-dikit nanya “Oniisan dou? Kakkoi yo… Oniisan ni cocok yo…” Saya lupa dia bilang apa, intinya gitu dah. Jadi agak pengen beli juga gara-gara godaan itu mbak.

Dan disini saya baru melihat tawar-menawar dengan orang Jepang, oleh Kak Dewi. “Yasukunaro yo…“, gitu lah. Standar ibu-ibu Indonesia nawar tapi bahasa Jepang. Lucu juga. Dan gara-gara Kak Dewi ini juga saya nggak beli jam. Diimingi tempat lain (Toki) yang seharga sama tapi jam bermerek yang kalau di Indonesia keluaran baru disana sudah diskon 70%. Dan saya dibilangin bimbo oleh kak Dewi ke si mbak tadi, jadi mbaknya berhenti menawari saya. T.T Akhirnya ke Toki juga nggak jadi, karena nggak ada kendaraan.

Maaf ya mbak...

Kak Dewi, Si Mbak, dan Saya

Kamu masuk ke koridor pasar dari kul pukul setengah 11. Setelah itu, waktu berjalan lambat. Atau kami yang berjalan lambat. Lihat toko aneh dikit, berhenti. Dan yang paling bikin lambat adalah sindrom yang dialami para pelancong umumnya. Terutama yang baru beli lensa. Ada background bagus dikit, eh sini-sini, foto dulu. Eh kamu, jadi model dulu. Sampai di ujung koridor, yang ternyata agak jauh juga, mungkin sudah hampir pukul 1. Sudah pada lapar.

Banyak sih foto saya dan kami disini. Namun terlalu aneh dan keras (baca: keren) untuk ditampilkan disini. Ntar pada pengen dan fotonya diunduh untuk wallpaper, kan nggak enak saya.

Mau ke si restoran InPal (India Nepal) tadi, tapi menurut peta agak jauh di ujung pasar yang satu lagi. Jauh, males ah, kebab aja apa ya. Ntar aja deh, kata ibu-ibu, liat dulu kesana cari toko boneka. Sedikit-sedikit, maju, sedikit, eh lama-lama nyampe ujung pasar juga. Si restoran InPal malah kelewat. Hmf. Dasar ibu-ibu.

Namun, karena ada yang mau kebab satu orang, rombongan kami pun berpisah. Si dua daun muda pun ke tempat kebab dekat kuil sana. Saya dan tiga daun momiji ke restoran InPal. Kami memesan paket paling murah seharga 890 yen, sudah termasuk nasi/nan, daging kari, salad, dan jus mangga. Oh ya, disini ada ruangan kecil, kan restoran halal (masuk aja di-assalamualaikum-in) jadi boleh shalat disini dah.

Makan di Restoran INPAL

Makan di Restoran INPAL

Oh ya, di sela-sela pasar ini juga ada kuil bertebaran. Ndak tahu juga tuh. Intinya, kayak ginian di Jepang banyak lah.

Awal-awal ini pasar sepi. Entah karena di masih di ujung kuil atau karena memang belum banyak orang. Sampai siang dan sampai tengah koridor, makin ramai orang. Dan kayaknya memang tambah rame kok. Soalnya pas pulang dari koridor (pukul 2) di depan toko Alice on Wednesday tadi antri sangat panjang. Padahal sebelumnya (pukul 10.30) tinggal masuk-masuk aja.

Dan sekitar pukul 2 lewat kami pergi dari sana. Setelah dua daun muda yang lepas makan kebab duluan menunggu di kuil (stasiun kereta yg tadi kami sampai lebih dekat ke kuil) menelepon saya dan suaranya terdengar ngambek. Capek berdiri katanya. Dan belum shalat. Baru kali ini denger dia bersuara seperti itu. Tujuan kami selanjutnya adalah Nagoya Castle, tetapi hari sudah agak sore.


NB. Saya baru tahu kalau delima itu bahasa Inggrisnya promegranates dari pasar ini. Mahal.

Delima alias Pomegranate

Delima alias Pomegranate

4 Comments

  1. Ping-balik: Pusat Perbelanjaan Namba ~ Ternyata Jepang Bisa Kotor Juga | Blog Kemaren Siang

  2. Ping-balik: Semangat Jiwa Muda, Seishun 18 Kippu ~ Liburan Musim Dingin: Kansai | Blog Kemaren Siang

  3. Ping-balik: Derita Bujangan di Negeri Orang: Harus Masak Sendiri | Blog Kemaren Siang

  4. Ping-balik: Nagoya: Nagoya Castle | Blog Kemaren Siang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s