Wisata Jepang
Comments 15

Perjalanan ke Jepang yang Melelahkan

Yohei-san (pirang) dan Masanobu-san

Delapan Oktober 2013. Itulah tanggal saya berangkat ke Jepang. Perjalanan saya menggunakan maskapai Korean Air, berangkat dari Cengkareng ke Centrair, dan transit sebentar (3,5 jam) di Incheon. Saya berangkat pukul 22.05. Berikut adalah sekilas cerita saat perjalanan yang cukup monumental bagi saya ini, karena inilah langkah awal impian saya terwujud (not that it has come true already).

Perjalanan tersebut cukup melelahkan, secara harfiah. Saya harus berangkat dari Tanjungbalai ke MES/KNO perjalanan 4 jam. Dari MES ke JKT terbang 2 jam. JKT ke CGK menikmati macet. CGK ke NGO penerbangan 14 jam plus selisih waktu dengan transit di ICN selama 3 jam lamanya. Belum lagi harus naik kereta dari NGO ke Toyohashi selama 2 jam, dan kemudian ke kampus. Fuih… Cerita lengkap, di bawah.

Dan Anda tahu bahwa saya punya hobi untuk menambah-nambahi sesuatu yang tidak penting, di luar konteks, atau bahkan ambigu berbahaya pada tulisan saya. Bisa kalimat, komentar, becandaan setengah serius. Beberapa paragraf awal setelah ini juga sifatnya seperti itu. Tidak sesuai judul. Silakan dilewati dan langsung mulai dari Jakarta atau Korea jika Anda hanya ingin tahu yang tertera di judul, cerita perjalanan saya ke jepang yang melelahkan.

Persiapan: Bandung

Saya minggat dari Bandung pada tanggal 26 September 2013. Cukup cepat, mengingat saya tidak memberitahu siapa-siapa mengenai rencana saya ke Jepang dan tentu saja (kapan) rencana saya pindah ke Bandung. Hanya tulisan At Last My Days are Numbered sajalah yang menyampaikan rencana saya tersebut secara terbuka dan kebetulan dilihat oleh beberapa teman – yang kemudian marah karena mau berpisah tidak laporan-laporan. Well, saya sebenarnya sudah menyisipkan komentar pada tulisan saya sebelumnya (seksi Introvert Cenderung Tertutup?). Bahwa jika saya mendapatkan kesempatan kabur keluar negeri seperti ini saya juga tidak akan memberitahu siapa-siapa sampai hari keberangkatan. Itu perasaan saya dulu setelah mengevaluasi alasan seseorang bersikap tersebut dan reaksi orang-orang di sekelilingnya (termasuk saya) yang menyesali sikap itu. Sekalimat komentar pada artikel tersebut adalah penyesalan atas reaksi menyesalnya saya (kami). Bahwa mungkin, saya pun akan melakukan demikian with high propability. Namun ternyata, setelah saya alami sendiri sekarang, ternyata perasaan tidak sesederhana evaluasi saya. Banyak faktor yg bertolak belakang yg mendorong saya untuk mengucapkan kata perpisahan. Mungkin saya akan mengelaborasi sedikit ttg hal ini lain kali. Sekalian membersihkan rasa penasaran seseorang yang tidak sengaja membaca strange English writing on my black book. Sementara ini, lupakan paragraf ini dahulu.  Soalnya, abstraksi dan pointer pada paragraf ini terlalu tinggi.

Alhamdulillah, saat saya pulang saya diantar (dan ditraktir) oleh dua sahabat saya: Rizky Alfian dan Bambang Tressando. Udah kayak tukang ojek lah mereka…

Bye-bye kamar kosanku...

Bye-bye kamar kosanku…

Kembali ke bahasan yang sederhana. Saya minggat dari Bandung pada tanggal 26 September 2013.  Saya harus minggat dengan cepat karena dua alasan: kosan yg cuma sampai pertengahan Oktober dan aplikasi visa. Sebenarnya kosan masih ada sisa dua minggu (setelah saya perpanjang 2 bulan dari jatuh tempo pada tengah Agustus). Sebelumnya, saya ingin daftar visa di kedutaan besar Jepang di Jakarta. Eh, ternyata berdasarkan alamat pada paspor, saya jatuh pada yurisdiksi Medan. Jadi saya tidak bisa mendaftar di Jakarta, dan harus di Konjen Jepang di Medan. Begitulah akhirnya saya pulang.

Patut dicatat bahwa rumah saya bukan di Medan tetapi di Tanjungbalai, 4 jam dari Medan. Oleh karena itu, saat pesawat turun ke Kualanamu hari Kamis itu, lebih baik saya langsung menyambangi Konjen Jepang dan mendaftar visa. Daripada pulang terus balik lagi ke Medan…

Nah, visa membutuhkan dua hal penting yg harus saya tunggu dari Jepang: Certificate of Elligibility dari Jepang dan Tiket Keberangkatan. Saya sudah mengeset pengiriman si CoE ke rumah saya di Tanjungbalai. Namun, pada hari Selasa pagi itu surat belum juga sampai di rumah. Padahal, hari Minggu surat sudah sampai di Kualanamu. Loh? Saya pun panik. Jika surat tidak sampai hari Selasa itu, surat tidak akan bisa dibawa oleh ayah saya yg berangkat ke Medan untuk sebuah acara hari Rabu pagi. Dan saya tidak akan bisa mendaftar pada hari Kamis. Saya pun terpakasa menelepon kantor DHL dan ditanggapi dengan cepat, servisnya bagus ternyata. Tapi kekhawatiran saya belum hilang. Well, belum lagi tiket pesawat juga blm ada kabar, hm.

Dan, hari Rabu, sehari sebelum saya pulang, saya dapat email ttg itu tiket keberangkatan: 8 Oktober 2013 lah saya akan berangkat. Hari itu juga, surat sudah sampai dan sempat dibawa oleh ayah saya. Giri-giri seefu.

Persiapan: Tanjungbalai/Medan

Monumen Lumba-lumba di Tanjungbalai

Monumen Lumba-lumba di Tanjungbalai

Beberapa hal yang saya harus siapkan saat di rumah adalah Visa (mengambil) dan uang yen. Karena Tanjungbalai kota kecil, yen disini mahal. Ada tapi mahal, 1 yen = Rp250. Saya pun menukar di Medan, sekalian ambil visa. Sebenarnya kurs waktu itu juga sedang mahal, di web (BRI, BNI, Mandiri) sudah pada di atas 120 semua. Tempat yang saya tanya pertama mintanya Rp200, dan kemudian yg kedua Rp185. Lumayan, saya pilih dia.

Saya di rumah sekitar 10 harian. Kondisi saya waktu di rumah agak aneh. Waktu saya pulang dari Bandung ke Medan, begitu pesawat lepas landas, saya tidur. Tidak seperti biasanya. Sampai di Kualanamu, waktu mau naik travel ke Medan pun saya sudah pusing seperti masuk angin. Hm… Tidak rela meninggalkan seseorang Bandung kah, saya… Dan dalam perjalanan pulang dari Medan ke Tanjungbalai malamnya, as expected, saya tepar (baca: mabuk dan muntah [padahal haram]). Padahal saya sudah 5xan pulang ke TJB dari BDO tanpa mengalami hal ini.

Setelah sampai di Tanjungbalai, besoknya saya diurut (It’s normal for Indonesian people go to “massager” when they are sick). Agak mendingan lah… Namun, seiring mendekat ke hari keberangkatan, kondisi saya membalik (bukan membaik). Seperti sedang naik kendaraan gitu… Nggak pusing sih, tapi kayak pegal dan mual gitu.

Entahlah… Mabuk kendaraan sepertinya masalah psikologis. Alam bawah sadar banyak memikirkan dan mencemaskan sesuatu. Mungkin masalah imigrasi, kuota bagasi, topan, hidup disana dll.

Dahulu, saat saya SD dan masih sering melakukan perjalanan Metro, Lampung – Bengkulu atau Metro – Medan naik bus, saya juga sering tidak enak badan bahkan sebelum naik itu bus. Ketika mencium aroma apek udara bus (saat naik misal), saya sudah bisa muntah. Apalagi jalur Lampung-Bengkulu waktu itu adalah jalur gunung yg sangat panjang, blm ada jalur lurus seperti sekarang. Seiring waktu, saya menanggalkan kebiasaan tersebut. Mungkin karena makin biasa. Sekarang-sekarang sudah aman, walaupun seringnya saya ya tidur saja di kendaraan. Kalau saya blm terbiasa dengan lajurnya plus jalannya berlika-liku, kadang kumat juga…

Nah sekarang ini gak tau. Sudah lama tidak seperti ini saya. Lah ini, masih di rumah pun, masih berapa hari lagi pun, sudah ada gejalanya. Sehari sebelum berangkat, saya urut lagi. Entah kenapa bagian kanan tubuh saya tegang (jadi kyk pegel). Nggak bikin sembuh sih urutnya. <.<

Rumah saya adalah di Tanjungbalai, 4 jam dari medan. Menghitung dari titik awal ini ke universitas, saya harus menempuh 4 jam mobil Tanjungbalai – Medan, 1 jam nunggu pesawat, 2,5 jam Kualanamu – Jakarta, 1 jam nunggu pesawat di Cengkareng, 7 jam perjalanan Jakarta – Incheon, 3,5 jam transit, 2 jam Incheon – Centrair, 2 jam Centrair – Toyohashi. Total 23 jam. Belum menghitung jeda antar prosedur di atas. Kalau naik kereta (dari TJB ke Medan, dan dari stasiun Medan ke KNIA), harus tambah 30 menit + 2 jam lagi (naik kereta harus 2 jam sebelum pesawat berangkat). Hm…

Karena perjalanan sangat panjang, Mengingat kondisi saya agak aneh, saya agak ragu untuk menjalani seluruh rangkaian perjalanan tersebut secara langsung. Oleh karena itu, saya ingin memecah perjalanan. Pesawat Korean Air berangkat dari Jakarta Selasa, 8 Oktober 22.05. Saya berangkat dari Tanjungbalai, Senin, 7 Oktober 07.00. Jadi bisa istirahat di Jakarta malamnya. (or so I thought)

Saya berangkat dari Tanjungbalai tidak menggunakan kereta. Soalnya, jurusan Medan-Tanjungbalai hanya ada 3 kali sehari: 08.00, 12.00, dan 15.00. Perjalanan 5 jam. Pesawat ke Jakarta berangkatnya jam 14. Kereta dari stasiun Medan ke KNIA harus 2 jam sebelumnya, jadi, hm. Belum lagi mau nuker duit dulu di Medan (pas ambil visa waktu itu kurang nukernya, saya diminta bawa 84600yen+30000yen+biaya hidup sebulan).

Akhirnya saya (dan Ayah saya, ikut sampai Jakarta) diantar oleh temannya. Namanya Om Edy. Tentu saja keluarga saya yg lain (Ibu dan adik) juga ikut. Memang kami sudah sering pinjam ini mobilnya Om Edy sih. Platnya ada tulisan Paspampresnya. Dan waktu mengantar kami, Om Edy pakai seragam lengkap. Jadi kayak petugas bandara kalau lagi berdiri di dalam bandara (sampai ditanyain bule). Sayang saya lupa foto…

Oh ya, ayah saya juga bisa masuk bandara ke lokasi klaim bagasinya KNIA loh dengan hanya modal topi bertulisan Paspampres punyanya Om Edy ini.

Persiapan: Jakarta

Pesawat saya berangkat pada hari Selasa, 8 Oktober 2013. Saya sudah sampai di Jakarta pada 7 Oktober sore jam 4.30. Rencana saya mau menginap di penginapan dekat bandara saja, biar tidak terkena macet toh cuma mau istirahat saja. Ternyata, mahal-mahal euy. Akhirnya, saya menginap di rumah penjemput saya, Om Edy, ipar dari adik ayah saya di rumah dinas Angkatan Udara di sekitar bandara halim. Karena penjemput kami lumayan banyak (mereka menjemput karena habis mengantar orang lain juga), kami harus memulangkan awak mobil tersebut. Memutar-mutar Jakarta lah kami, muaced. Dan, sampailah kami di halim jam 10 malam. Duh, harus istirahat-harus istirahat (malah ketemu si komo).

Karena berangkat Selasa malam jam 10, Selasa pagi saya hanya tidur-tiduran saya di rumah. Istrirahat eh istirahat. Bangun tidur sih gak papa. Agak siangan kok lagi-lagi pegel gak enak gitu. Entah masuk angin, atau situasi psikologis tadi lagi. Banyak pikiran. Mana harus memecah koper, karena tadi kelebihan beban. Jatah Korean Air hanya 23kg sedangkan koper yangs aya bawa bobotnya 28,4kg. Hm…

Setelah berdiskusi dengan seorang yang pernah terbang ke US, saya pun meminta Ayah membeli tas kecil untuk dibawa ke kabin. Sebagian barang bisa dipindah kesono, semoga aja 6kg muat, toh jatah kabin katanya 12kg (1 tas + 1 tas lain [laptop, tas tangan]). Eh, malah dibeliin koper juga walaupun kecil sih, cuma saya sudah punya sebelumnya, tapi gak dibawa… Sambil was-was (takut gak boleh bawa koper ke kabin) saya pun mempack ulang bawaan saya. Shoganaina…

Menghindari si komo, kami berangkat pukul 5. Toh, mau mampir ke tempat pengantar lain, si adik ayah saya (mutual family-nya kami dan penjemput/pemberi kami tempat berteduh). Kondisi saya waktu itu sudah lumayan lemas. Seolah-olah istirahat yang sehari tadi gak mempan. Hm.

Setelah memanjangkan kaki, memadarkan kepala, dan memaksa makan di tempat adik ayah saya, jam 8 kurang kami berangkat ke bandara. Sudah agak mendingan.

Sampai di bandara dan mencari terminal tempat Korean Air bernaung (gak tertera di tiket soalnya), saya pun check in. Dengan sedikit otoritas ke TNI-AU-an, istri Om Edy mengantar saya sampai tempat check-in. Kalau saja waktu itu temannya sedang tugas jaga, mungkin kami bakal masuk semua.

Check-in sambil deg-degan, gak tau soalnya berapa kilo akhirnya koper utama saya yg mau masuk bagasi. Dan akhirnya berapa kawan-kawan??? Tepat 23.0 kg! Strictly speaking, agak goyang-goyang +- 0.2 kg sih, tapi gak dianggap overweight! Hore!! Satu beban hilang sudah.

Ruang Tunggu Cengkareng

Ruang Tunggu Cengkareng

Setelah itu saya keluar lagi. Menunggu denting jam sambil berbicara mata-ke-mata ke keluarga untuk terakhir kali sebelum saya bisa pulang lagi ke tanah air. Jam 9 tepat, saya masuk lagi dan melewati imigrasi. Takutnya antri lama, tapi ternyata sudah sepi saat saya masuk. Dan kemudian sampai di ruang tunggu 9.20an. Sambil me-sms beberapa teman (yappari, saya tidak bisa menahan rasa sedih dan dorongan tuk memberi kata-kata terakhir), hamsa hamida menggema secara rutin di ruang tunggu.

Quick Fact: Oh ya, kalau Anda tidak menyadari saya ke Jakarta diantar oleh Om Edy dan dijemput oleh Om Edy, yg satu afiliasi ke Paspamres satu lagi ke TNI AU. Hm…

Transit: Korea

Berikut adalah foto interior air bus Korean Air yang saya naiki. Baru kali ini saya naik pesawat sebesar ini, formasi kursinya saya 3-4-3. Kursi di sebelah kiri saya kosong (tadinya saya bukan duduk disitu sih, tapi ada orang korea yg minta tukeran). Lumayan buat tidur berbaring sebenarnya, tapi kok agak sungkan mau make tiga kursi sekaligus. Hehe…

Korean Air

Interior Korean Air yang saya naiki

Pengumuman pesawat menggunakan tiga bahasa: Korea, Inggris, lalu Indonesia. Karena ini maskapai negara Korea, tentu penumpangnya banyak orang koreanya, jadi pramugari yg juga orang korea ngomongnya pake bahasa korea. Kecuali kalau ketemu muka nonkorea kayak saya.

Air bus lepas landasnya gak begitu kerasa loh. Karena capek, saya sebenarnya mau langsung tidur sesaat setelah lepas landas. Namun, sekitar 30 menit kemudian saya dibangunin pramugari, disuruh makan malam. Heu. Disuruh pilih ikan, ayam, sama apa gitu. Saya pilih ikan… Suka soalnya (becanda ^^v).

Saya makan sambil nonton pelm, banyak pelm lumayan baru di entertainment box di depan kursi. Cuma karena capek, gak sampai selesai juga akhirnya. Hm, dan saya tidur. Patut dicatat bahwa kursi ekonomi ini pesawat sangat tidak nyaman. Dimiringan ke belakangnya cuma bisa sedikit. Masih lebih enak kursinya Cipaganti deh. Bangun-bangun, badan pegel, kayak gak tidur.

Pukul 7 pagi waktu setempat, pesawat tiba di Bandara Internasional Incheon. Berikut foto-foto disana. Karena ngantuk dan capek, dan juga bawa ransel+koper kecil, saya gak sempet keliling-liling bandara. Cuma cari internet (untuk menghilangkan ngantuk selama nunggu 3 jam) dan cari Gate 19 tempat saya berangkat.

Bagian ruang tunggu pada galeri di atas adalah bagian paling wah dari bandara Incheon. Setidaknya dari pengamatan saya. Bagian ini bisa diakses setelah lewat imigrasi (kalau saya pengecekan khusus transit). Ruang tunggu ini sangat luas dan terintegrasi satu sama lain, juga dengan kafe-kafe. Jadi bisa pindah ruang tunggu dan mampir ke kafe. Tidak seperti Cengkareng yang antar ruang tunggunya terpisah jauh (apalagi sama kafe) atau seperti Kualanamu yang masuk ruang tunggu kayak masuk aquarium, di scan lagi, jadi kalau keluar ke kafe repot.

Oh ya, colokan listrik di Korea ternyata sama dengan colokan di Indonesia loh.

Kereta: Jepang

Setelah berjuang menahan kantuk, saya diperbolehkan naik pesawat lagi pukul 10, setengah jam sebelum pesawat tujuan Nagoya berangkat. Pesawat yang sekarang juga airbus, tapi lebih kecil. Mungkin karena bukan perjalanan semalam penuh. Formasi kursi hanya 2-4-2. Saya lagi-lagi dapat kursi yang sebelahnya kosong, bisa tiduran juga tuh, tapi ya sungkan lah.

Di pesawat ini saya ingin tidur, tapi cuma 2 jam nggak bisa lah. Untuk makan siang, saya dikasih onigiri di pesawat ini. Pukul 12.20 saya tiba di Bandara Chubu Centrair International Airport. Keluar dari garbarata langsung dihadapkan ke barisan imigrasi. Tidak boleh foto-foto disini, jadi ya saya gak dapat foto antrian imigrasi yg banyak bulenya.

Setelah lewat imigrasi, dapat kartu residen Jepang, dan mengambil koper besar, saya diciumi anjing. Semoga aja itu anjing gak jilat, kayaknya nggak sih. Anjing pendeteksi bom/naon gitu. Lalu saya pun berhasil keluar. Oh ya, waktu saya sampai di luar sedang hujan lebat. Pendaratan juga agak seru karena hujan ini.

Koridor Luar Centrair

Koridor Luar Centrair

Sampai di koridor luar bandara, saya bingung. What’s next? Lewat mana? Setelah 10 menit nge-hang, saya pun mendorong koper besar dan koper kecil saya ke arah luar bandara, ke lokasi stasiun. Untung ada elevator horizontal. Gambling juga sih lewat itu koridor, gak yakin lewat situ soalnya, he… Dan karena capek+bingung, saya jadi lupa ambil foto apa-apa disini. Maaf.

Sesampai di stasiun (mungkin 20 meteran dari exit gate), saya pun nanya ke orang kereta mana kalau mau ke Toyohashi. Susah bahasa Inggris juga tuh orang, padahal kerja di bandara internasional, huh. Saya pun beli tiket Meitetsu train ke Nagoya, first class, alias Myu Ticket. Harganya 1940 yen (1590yen harga tiket dan 350yen harga kelas satu). Karena kelas satu, saya dapet gerbong yg paling dekat dengan pintu masuk stasiun.

Myu Ticket Centrair-Toyohashi

Myu Ticket Centrair-Toyohashi

Oke deh, saya naik dan akhirnya bisa agak tenang. Yang saya harus perhatikan adalah jangan tidur dulu, karena harus ganti kereta di stasiun Jingumae. Setelah itu baru boleh istrirahat eh istirahat, soalnya stasiun Toyohashi adalah stasiun terakhir. Saya agak ragu dengan pergantian kereta ini, soalnya gak tau dimana titik gantinya. Eh ternyata gampang, stasiun pertama yg dikunjungi dari bandara adalah Jingumae soalnya.

Di dalam kelas satu Meitetsu Train

Di dalam kelas satu Meitetsu Train

Melihat ke luar kereta, terasa perbedaan sangat mencolok antara Indonesia dan Jepang. Tidak, bukan cuma karena di belakang ada yang ngomong bahasa Jepang atau di luar tulisan kanji dimana-mana. Nggak tau apa, tapi pemandangannya terasa beda aja. Bentuk rumah. Dan yang paling kentara mungkin adalah kerapihan. Rumah disana rapih, bentuknya nggak asal kayak kita. Jalan dan parkiran bersih. Marka jalan bagus dan bentuknya agak beda. Agak susah memfotonya dengan kereta express ini, mana hape lemot, tapi ini salah satu foto yg paling jernih yg saya dapat.

Kelihatan Bedanya?

Dua puluh menit saya kami sampai di Jinggumae. Saya pun turun dan menggeret tuh dua koper besar dan kecil. Dan yang saya temukan selanjutnya adalah tangga!!! Pertama tangga naik, untuk bergerak tangganya. Kemudian tangga turun, sangat jauh, dan statis. Saya harus berjuang sendirian menggotong itu dua benda ke bawah. Mana luemes banget kan… Mati-matian gan, literally

Tangga yang saya harus berjuang menuruninya

Tangga yang saya harus berjuang menuruninya

Oh ya, disini banyak orang Jepangnya loh. Nggak tahu kenapa…

Di depan tangga, saya langsung menunggu kereta selanjutnya. Toh ada tulisannya di monitor penunjuk arah, Toyohashi jam berapa gitu, setelah tulisan ke sebuah tujuan dengan jamnya sendiri. Tepat pada jam itu, kereta datang. Untung saya tidak naik, karena saya menebak bahwa tepat jam-menit segitu tujuannya bukan Toyohasi. Sekitar tiga menit setelah kereta pertama tadi lewat, sebuah kereta pun datang di menit yang sama dengan tulisan Toyohashi tadi. Okelah saya naik.

IMAG5394

Suasana Gerbong Non Kelas Satu

Dan ternyata… Tidak sama seperti gerbong yang saya naiki tadi. Ini gerbong biasa bukan first-class. Gerbong keenam. Gerbong Myu Ticket ada di gerbong pertama dan kedua. Karena nggak mau rugi dan agak susah tempat duduk juga, saya pun berusaha untuk pindah gerbong, menjangkau itu gerbong pertama.Sambil mengeret itu dua koper, saya berjuang melewati koridor sempit kereta. Ternyata, pindah gerbong itu gak gampang kawan. Itu pintu antar gerbong nutup sendiri kalau gak dipegangin. Padahal bawaan saya kan dua koper, yg satu super besar pula… Jadi harus satu-satu tuh, diangkat, balik lagi, angkat lagi. Dan pintu antar gerbong itu kan ada dua ya, satu untuk tiap gerbong. Jadi prosedur tadi harus dilakukan dua kali, per gerbong. Huh…

Tiga barang bawaan saya nih: ransel, koper besar (merah), dan koper kecil

Tiga barang bawaan saya nih: ransel, koper besar (merah), dan koper kecil

Sampai di Gerbong No.4, saya menyerah

Sampai di Gerbong No.4, saya menyerah

Satu gerbong saya masih bisa. Gerbong kedua, makin super luemes. Gerbong ketiga ternyata super rame di koridor. Akhirnya, karena energi saya habis, saya pun menyerah. Saya hanya berdiri di dekat pintu, soalnya gak ada kursi kosong yang potensial. Sekitar 20 menit menunggu stasiun selanjutnya. Alhamdulillah, ada yang turun dan kursinya bisa saya kuasai. Akhirnya saya bisa duduk dan menyandarkan bahu. Ah, nikmatnya…

Sekitar 30 menit kemudian, 1.5 jam dari bandara, saya sampai di stasiun Toyohashi. Untung disini tangganya bergerak semua… Sampai di batas luar area penumpang stasiun, saya langsung dipergoki oleh penjemput saya, tutor, Inoue Yohei. Kok dia bisa tahu? Mungkin orang asing yg sedang kepayahan bawa barang banyak melewati mesin pembatas otomatis…

Akhirnya ada yg menolong saya membawa itu barang. Saya pun pergi dari stasiun naik mobilnya Yohei-san dan mampir di warung udon untuk makan. Lumayan, hujan-hujan enaknya makan yang hangat kan…

(Pas saya datang sedang minggu taifun, well tiga minggu saya di Jepang, tiga kali topan, sekali per minggu [belum menghitung fakta bahwa kali ini ada dua topan yg lewat])

Alhamdulillah. Akhirnya saya sampai. Doakan saya supaya bisa bertahan (lama) disini.


Sebenarnya, kegiatan saya hari itu belum selesai. Hari itu, 9 Oktober 2013, saya tidur jam 22 waktu setempat (dan capeknya terasa sampai esoknya). Sebelum istrirahat istirahat, saya harus ke Internasional Division Affairs, bayar-bayar asrama dan admission fee, guidance untuk asrama sebentar, ketemu sensei, dan tentu saja makan malam (+ambil barang-barang warisan dari PPI). Alhamdulillah Mas Febri, ketua PPI Toyohashi menyelamatkan makan malam saya hari itu. Terimakasih Mas Febri dan juga PPI. Juga tutor saya, Inoue Yohei.

15 Comments

  1. Rusdan Mustaqim says

    Mas pengalamannya seru banget. saya juga 31 agustus ini bakal ke nagoya juga .dan naik maskapai yang sama juga sma mas cuma bedanya saya transit di incheon sampai jam 3 sore. mau nanya dong soal prosedur kita pas transit di incheon hehe. saya pertama kali keluar negeri sendiri soalnya ini. makasih ~

  2. retno ayu pratiwi says

    tes tes,,,
    gan, ceritanya seru bingit,,
    rencana tgl 7 april sy mw ke jpn, sendiri,, dan blm pnya pengalaman sm skali ke luar negeri,,
    deg2n psti iya,,
    kalo di imigrasi itu ngapain ya?? ada yg rs di isi???

    • Wah… Terima kasih dan salam kenal.
      Ke Jepang jalan-jalan atau lanjut sekolah kah? Di Imigrasi nanti cuma laporan kalau udah sampai aja rekam foto dan sidik jari, terus nanti dicek apakah syarat kita masuk Jepang sudah lengkap atau belum. Kalau sudah ya aman, kalau blm bisa disuruh pulang. Tergantung visa yang kita punya, nanti juga dikasih KTP Jepang.

  3. kereeennn.. dulu baru disana 1 minggu pas balik ke jakarta entah kenapa ko berasa aneh aja kalo liat jalanan (berantakan ) hhee

  4. Ping-balik: Nagoya: City Hall – Pertemuan Pertama Beasiswa Prefektur Aichi | Blog Kemaren Siang

    • Karena saya dibeliin jadi gak tau. Tapi kalau tidak salah waktu itu coba ngetes di situs Korean Airnya harganya 585 dolar. Coba aja langsung kalau mau, kan bisa…

    • Kalau tidak salah itu wajib untuk pelajar (dan visa keluarga/spouse juga). Kalau visa turis sih nggak perlu…
      Ngurusnya ke imigrasi di Jepang, kalau pelajar minta urusin sensei/univ kalau keluarga ya minta urusin suami/istri yg udah di Jepang.

  5. wah,,keren banget hasil dokumentasi dan per ceritanya..detail dan enggak membosankan.. banyak gambarnya… saya slh satu pengunjung setia blog ini yg awalnya cuma baca2 akhirnya ksampean pengen komentar juga… menginspirasi sekali…. dan detail…saya tunggu cerita selajutnya …sukses..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s