Wisata Jepang
Comments 2

Gikadaisai: Festival Toyohashi University of Technology

Tim PPI

Tiga hari setelah saya sampai di Jepang, yakni pada tanggal 12 Oktober 2013 terdapat festival universitas di area utama kampus. Festival ini diadakan dua hari yaitu tanggal 12 dan 13. Saya yang baru datang ini juga dipaksa diminta untuk langsung ikutan berpartisipasi dalam festival ini: menjaga stand Indonesia.

Festival ini bernama Gikadaisai. Secara harfiah artinya ya Festival Gikadai. Gikadai adalah singkatan dari Toyohashi Gijyutsu Kagaku Daigaku 「豊橋技術科学大学」, nama universitas tempat saya belajar sekarang. Jadi nama festival ini ya gitu: Festival Toyohashi University of Technology.

Isinya apa? Saya juga tidak begitu yakin.

Keramaian Festival

Keramaian Festival Gikadai

Dari yang saya lihat kemaren, di tengah area utama kampus terdapat panggung besar. Di panggung ini mahasiswa bisa mempersembahkan sesuatu. Perform bahasa viki-nya mah. Misalnya tarian ancur (break dance) atau sulap atau cirlider atau nge-band atau melawak. Ya kayak festival sekolah di anime-anime itu. Kayaknya ada artisnya juga, cuma saya nggak tahu. Artis lokal kali.

Kemudian, di pinggir-pinggir area utama terdapat banyak stand. Hampir setiap komunitas diundang. Misalnya komunitas pelajar asing misalnya kita PPI, pelajar Malaysia, Vietnam atau negara lain, dan juga klub-klub (unit kalau di ITB namanya). Setiap stand bisa jualan makanan atau suvenir, tergantung kreativitas masing-masing. Bisa juga memperkenalkan budaya negara/daerahnya sendiri, cuma nggak boleh mengganggu sih kalau di stand. Nah, warga kampus dan warga sekitar bisa berkeliling nyicipi makanan sambil melihat apapun yang lagi perform di panggung.

Stand Indonesia waktu itu menjual tiga jenis makanan: syomai (atau batagor ya?, tapi dijual dengan nama ショマイ), sate daging, dan es pisang hijau. syomai dihargai 300 yen, sate 400 yen, dan es pisang ijo 200 yen.

Es Banana Midori

Es Banana Midori

Aslinya si syomai itu dapet kentang juga (atau kentangnya dijual juga ya, saya tidak yakin). Cuma sebelum dijual, panitia mengintrogerasi tuh. Pake kompor listrik apa gas. Pake garem nggak. Nganu nggak. Kuetat banget di sini. Nah, si kentang kita ini ternyata ada garemnya (kalau tidak salah), tidak jadi dijual deh. Si sate juga nggak kayak sate di kita itu, bakarnya cuma dikit sampe efek gosong gitu aja. Setelahnya ya direnji (Microwave .pen) doang.

Suvenir Indonesia yang Kami Jual

Suvenir Indonesia yang Kami Jual

Selain makanan tersebut, kami juga menjual suvenir dari Indonesia. Saya waktu itu juga diminta bawa untuk dijual disini. Karena saya di Bandung, saya belinya di Saung Udjo. Suvenir Indonesia kan, ya sudah saya beli yang Indonesia banget gitu. Gantungan kunci wayang, gantungan kunci dan tempelan kulkas angklung, dan gantungan kunci kapal. Eh, ternyata yang laku disini malah kipas dan dompet. (T.T) Maklum, yang beli ternyata kebanyakan wanita.

Layanan Pemotretan Stand Indonesia

Layanan Pemotretan Stand Indonesia

Kemudian kami juga menawarkan foto dengan baju adat Indonesia. Memang kami tidak memiliki banyak koleksi baju, hanya dua stel baju wanita dan mungkin 5-6 stel baju pria. Dari sana, yang sepasang juga hanya satu: baju pernikahan minang. Yang ini nih yang paling laris dipakai orang. Mana yang pengen foto biasanya wanita lagi, hm.

Foto ini di hari pertama kami hargai 200 yen. Katanya sih tahun lalu 500 yen laku, cuma entah kenapa nggak enak mau pake harga itu lagi. Soalnya biasanya udah dapet hasil cetakan, katanya. Nah, kami kan cuma kirim foto via email saja. Kemudian, di hari kedua malah kami hargai gratis, jika sudah membeli barang yang lain. Jadilah hari kedua lebih ramai dari hari pertama.

Oh ya, waktu masang baju pengantin ada ibu yang menangis loh. Terharu, saking senengnya. Mengenang waktu nikah dulu mungkin.

Galeri Foto-foto dengan Baju Adat

Singkat cerita, dua hari ini cukup “menguntungkan” buat PPI. Katanya sih pemasukan kotornya hingga 10 man yen. Lumayan juga… Saya juga lumayan seneng, baru dateng udah bisa liat hal seru begini. Disini saya jadi bisa melihat dan kenalan dengan si orang-orang Indonesia yang ada di kampus ini. Apesnya kadang dipaksa jualan dengan bahasa Jepang (padahal kan masih belum bisa -.-!!)… Dua hari yang menyenangkan.

Galeri Foto Kejadian di Stand Indonesia

Sayangnya saya tidak mencoba makanan dari stand lain kecuali stand Malaysia (akhirnya bisa makan pisang goreng juga!!). Takut sih, ntar ada apa-apanya lagi. Selainnya cuma nongkrong di stand Indonesia doang. Hm.

Catatan: Foto-foto yang ada pada artikel ini courtesy by Albadr, Pak Budi, Pak Prayitno, dan Mas Febry.

2 Comments

  1. Ping-balik: Derita Bujangan di Negeri Orang: Harus Masak Sendiri | Blog Kemaren Siang

  2. Ping-balik: Festival Rakyat Tahara dan Parade Baju Adat Indonesia | Blog Kemaren Siang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s