Bandung, Diskusi dan Ide
Tinggalkan sebuah Komentar

Bulai Makin Banyak Bertebaran di Bandung

Saya heran. Akhir-akhir ini kok saya selalu melihat “orang asing” kemana pun saya pergi ya. Padahal kan saya jarang keluar rumah. Entah itu saat di kampus, di pusat perbelanjaan, atau bahkan hanya makan ke pasar simpang depan sana. Selalu saja minimal berpapasan dengan satu-dua muka luar.

Kadang muka Eropa. Kadang muka Cina. Muka Arab juga banyak. Jepang pun tak jarang. Eh, jepang mukanya sama dengan cina ya. Saya tahu itu orang asing karena mereka biasanya berkomunikasi dengan bahasa aneh gitu. Yang muka Cina tadi juga saya ‘agak’ bohong. Orang Cina kan memang banyak di Indonesia dan mereka kebanyakan bisa berbahasa China, jadi belum tentu bule. Hmm.. Hmm.. Orang China pun banyak yang di Singapur dan Malaysia. Hmm.. Hmm..

Tapi bener loh. Makin banyak dibandingkan beberapa tahun lalu. Yang Eropa dan Arab gitu juga makin banyak. Setidaknya perasaan saya mengatakan demikian? Tiap keluar aja nemu satu-dua kepala. Menurut Anda?

Saat mengunjungi Open House Rektor ITB juga, saya dikagetkan dengan kerumunan bule dari berbagai negara. Tanpa terlihat mahasiswa pribumi satu pun pula. Kasihan sekali saya. Well, sebenarnya ada, anaknya pak Rektor. Tapi itu tidak dihitung lah ya.

Kenapa ya?

Apakah pekerjaan di luar negeri semakin menipis sehingga banyak yang kabur ke Indonesia. Ataukah Bandung telah menjadi kota “Paris van Java” lagi? Makin banyak yang plesir kesini karena suhu udaranya yang mulai turun lagi. Ataukah benar kata teman saya bahwa duit di Indonesia lumayan mudah mengalir karena “lahan” yang tak terolah masih sangat banyak sehingga mereka berbondong-bondong ke Indonesia? Penelitian dan pembangunan masih banyak yang harus dikejar disini.

Globalisasi?

Oh iya. Ada kata itu ya, saya lupa. Ataukah karena efek globalisasi, pasar bebas, atau apalah itu namanya mulai terasa di Bandung. Apapun alasan yang disebut di atas rasanya bisa disebut dengan satu kata ini: globalisasi. Gampang (convenient.red) sekali ya.

Akan tetapi, kalau itu benar bukankah kita dalam bahaya? Lahan pekerjaan kita mulai digerogoti dong. Masih belum begitu terasa sih tetapi kalau kita diam begitu saja wah. Produk lokal bakal tersaingi dengan produk-produk kualitas tinggi dan murah dari luar. Pekerjaan menipis. Kita menjadi budak pasar internasional. Arhh, Tidaak. [too much thinking here](hey, you even got yourself globalized by using English in the former bracket){hey, you did it second times} *Eeto, sudah tiga kali kurung Inggris gan. Dan saya pakai eeto.*

Yare yare. Untung saja Sandang Indonesia sudah dimulai. Walaupun begitu, sebenarnya ini juga sudah sangat terlambat. Walaupun rakyat Indonesia baru akrab dengan eCommerce akhir-akhir tahun ini, kami termasuk terlambat. Untuk membesarkan usaha dengan ambisi besar seperti ini kan susah. Mahasiswa tanpa modal pula. Huh. Akan tetapi, Apa boleh buat. Tanpa modal, hutang pun jadi.😀 Yang penting punya start-up, keren, dan bisa membantu masyarakat. Seperti prinsip mahasiswa Amerkia sekarang (katanya), “Nggak punya start-up nggak keren”. Mungkin nanti kami akan mendapat terpaan yang sangat deras pada era globalisasi ini. Persaingan era globalisasi yang dimulai dengan berdatangannya bule ini. Tahun-tahun mendatang akan sangat berat. Akan tetapi kita harus tetap berjuang, memperjuangkan produk lokal. Daripada tidak sama sekali kan. Daripada tidak punya produk. Kita harus maju di negeri sendiri.

Sandang Indonesia

Loh-loh, kok muncul tiba-tiba “Sandang Indonesia” sih disini. Hehe, yah, maklum. Dua minggu sebelum pembukaan raya (Grand Opening, cih disini pun kami menggunakan istilah bahasa Inggris) toko online www.sandangindonesia.com, saya bakal memunculkan tautan dan kata Sandang Indonesia. Baik itu sebagai artikel utama, cerita sampingan, atau pameo seperti pada tulisan ini. Hehe, mengerti lah. Globalisasi lumayan cocok lah untuk menghadirkan pameo sandangindonesia yang ambisi akhirnya etalase dunia.😀 Jika Anda mengerti kunjungi Facebook fanpage kami di http://www.facebook.com/sandangindonesia ya. Tekan tombol “Like” kalau bisa.

Jangan pedulikan paragraf sebelum ini. Nggak penting sih. Yang penting, kalau Anda sudah tahu, setelah tokonya benar-benar up and running (oke, mas kamu terglobalisasi lagi nih, hati-hati Indolish), silakan kunjungi webnya. Kalau mau dibeli produknya ya syukur. Kunjungan ke web dan fanpage sekarang sama sekali tidak penting. Yang penting adalah Anda dukung kami saat kami benar-benar bertanding. Sekarang, yang juga harus Anda tahu adalah produk di toko online Sandang Indonesia kami tadi berasal dari UKM perajin langsung. Harga yang mengeset ya UKMnya langsung (tentu saja ditambah ongkir dan ongser – ongkos server). Ini artinya membeli disana UKM terbantu karena distribusi produk menjadi langsung dari Bisnis ke Pelanggan (alias BkP B2C). Dari perajin ke Anda pembeli, sehingga harga tidak lagi berputar-putar dan naik-naik ke puncak gunung di jalur distribusi saja.

sandangindonesia

Grand Opening Toko : 02 Oktober 2012 (bertepatan dengan Hari Batik Nasional)

Oh ya satu lagi. Blognya Sandang Indonesia bisa dibaca kapan saja di blog.sandangindonesia.com. Baca juga artikel sebelum ini tentang Batik dan Weekly Photo Challenge. Walaupun bahasa Inggris, karena ini era globalisasi (balik lagi kesini) nggak apa lah ya. Disana lumayan dijelaskan tujuan kami dan keprihatinan yang ingin kami redakan.

Jadi jangan lupa dukung kami ya gan? Coblos Alisnya. Coblos No. 210!

Eh, Itu Judul Artikelnya Salah Ketik ya… Bulai?

Sengaja kok, bukan salah ketik. Habisnya, kata sate, gule, dan cabe kan bentuk bakunya adalah satai, gulai, dan cabai bukan? Kata-kata berakhiran /–ai/ lain juga sering disingkat dengan akhir /–e/.  Sampai menjadi sampe. Rantai menjadi rante.

Kalau kata cape itu bentuk baku sebenarnya adalah capai, kenapa bule bukan bulai?

Catatan selingan: Tahukah Anda? Bentuk kata cape juga ternyata sudah terdaftar di KBBI loh. Jadi capai dan cape keduanya sah. Agak aneh, sih tapi ya sudahlah. Selingan saja.

Catatan selingan 2: Sub kepala terakhir ini dihadirkan untuk mengingatkan bahwa blog ini sedang berada pada fase topik kebahasaindonesiaan. Jadi walaupun tulisan ini kacau gimana gitu, ya ada aja deh nyambung kesana.

Jadi kenapa ya bule? Eh, yang benar yang mana dulu nih. Mari lihat KBBI:

bu·le /bulé/ cak 1 a bulai; 2 n orang (binatang dsb) berkulit putih; 3 orang kulit putih (terutama orang Eropa dan Amerika); orang Barat

bu·lai n putih seluruh tubuh dan rambutnya krn kekurangan pigmen; balar

Jelas, jika yang Anda maksud “orang asing” kata yang benar adalah kata bule. Judul di atas cuma main-main saja. Hehe…

Kenapa disebut bule? Mungkin karena kebanyakan yang disebut bule adalah ras kaukasian Eropa yang kebanyakan badannya putih kekurangan pigmen. Kerbau yang putih yang banyak di Jawa itu juga disebutnya kerbau bulai karena tak berpigmen. Sama-sama putih, disebutnya sama deh: bulai.

Lama kelamaan, sama seperti nasib kata cabe, sate, gule, dan tongseng dan cape, kata bulai pun berubah pengucapan menjadi bule berkat lidah orang Jawa. Pada akhirnya, karena kata bule memiliki penujuan tertentu kepada “orang dari luar negeri”, kata ini pun diangkat menjadi kata baku baru bermakna lain dari kata aslinya bulai.

Mungkin loh ya. Saya hanya menduga saja. Belum mencari tahu lebih jauh ke dunia maya sana.

Yah, itulah akhir dari bulaian eh bualan hari ini. Tidak jelas tujuan tulisannya apa tapi ya sudahlah. Semangat! Walaupun tulisan ini tidak lucu, jangan cembulai aja la ya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s