Kosa-Tata
Comments 3

Pengrajin dan Perajin : Satu Lagi Kesalahan yang Dibenarkan

Hari ini, 14 September 2012, saya dan teman-teman akhirnya mengudarakan (baca: soft-launchstart-up kami yang bernama Sandang Indonesia. Pada dasarnya fokus usaha kami adalah situs toko online (e-Commerce) untuk pakaian khas daerah Indonesia yang diproduksi UKM pelosok. Kami berambisi untuk menjangkau semua jenis pakaian khas daerah di Indonesia dan membantu UKM-UKM yang ada di daerah-daerah dari Sabang hingga Merauke.

Tujuan kami adalah mengangkat hasil karya UKM yang kebanyakan berada di pelosok daerah. Selama ini akses barang mereka berpindah-pindah tangan sehingga barangnya bertambah mahal berkali lipat saat sampai ke tangan pembeli tetapi UKM tidak menikmati hasil peningkatan nilai jual barangnya tersebut. Kami ingin memotong jalur distribusi yang panjang tadi menjadi konsep B2C (Bussiness to Customer) alias barang UKM dibeli langsung oleh konsumen. Istilah kerennya kalau kata Pak Munawar, salah satu dosen tempat kami berguru mengenai dunia ini: “mengantarkan produk perajin pelosok ke etalase dunia“.


Lalu timbul pertanyaan kecil dari kalimat yang diusulkan Pak Munawar tadi. Yang benar perajin atau pengrajin ya? Kata pengrajin sama sekali tidak aneh di telinga kita. Di pameran-pameran pun tak jarang kita melihat kedua kata dipakai. Jika dilihat di KBBI,  kata pengrajin disamakan artinya menjadi kata perajin. Kok gitu? Ada dua bentukan yang berbeda tetapi tidak ditegaskan mana yang benar? Apakah ini artinya kedua bentukan ini benar? Hmm, mungkin saja.

peng·ra·jin n perajin;

Menurut artikel di Lampung Post berjudul Pengrajin atau Perajin yang ditulis oleh Ninawati Syahrul, penulisnya mengusulkan bahwa bentukan kata pengrajin sebaiknya tetap dipertahankan supaya kita bisa membedakan dengan kata perajin yang artinya orang yang rajin. Tentu saja “tetap dipertahankan” menunjukkan bahwa sebenarnya bentukan kata ini kurang tepat. Ia berargumen bahwa kata perajin itu maknanya orang yang rajin. Pengrajin adalah orang yang mengerjakan kerajinan tangan. Perajin tidak ada hubungannya dengan kerajinan tangan tetapi kata pengrajin ada. Pengrajin belum tentu bersifat rajin. Ada juga pengrajin yang malas. Begitu beliau menulis.

Hmm, oke. Akan tetapi, jika begitu logikanya, kata kerajinan yang dapat diartikan keterampilan tangan semestinya juga tidak ada hubungannya dengan sifat rajin. Apakah demikian? Tidak. Turunan kata rajin memang menjadi dua makna yang disebut tadi — entah akibat pemakaian istilah selama bertahun-tahun. Adalah aneh menganggap kata perajin tidak berhubungan dengan kerajinan tangan. Dengan demikian, saya tidak setuju dengan pendapat artikel tersebut.

Cara mudah mengetahui yang benar adalah dengan melihat konsistensi. Kalau bahasa tidak konsisten, susah jadinya. Contohnya pada artikel saya sebelumnya perihal kata apotik dan apotek, bentukan benar dapat dirujuk dengan mengamati turunannya. Karena terdapat apoteker bukan apotiker, jelaslah yang mana yang benar sehingga terdapat konsistensi pada kedua kata.

Pada kasus yang sekarang, kita bisa mengamati bentukan imbuhan /pe-/ dan /peng-/ khususnya dengan kata dasar berawalan huruf /r/. Misalnya pe + ramal menjadi peramal; pe + renang menjadi perenang; pe + retas menjadi peretas;pe + rampok menjadi perampok. Jelas kita tidak mengenal kata pengramal, pengrenang, pengretas, atau pengrampok.

Menurut proses terbentuknya kata kita juga bisa melihat hal ini lebih jelas. 

ramal — meramal — peramal — ramalan

rampok — merampok — perampok — perampokan — rampokan

Awalan /pe-/ menunjukkan pelaku dari suatu kata kerja. Karena bentukan kata dari awalan /me-/bertemu dengan kata dasar berawalan huruf /r/ juga tidak berubah menjadi /meng-/, jelas bentukan yang benar adalah perajin bukan pengrajin.

rajin — merajinkan — kerajinan — perajin

Dari segi pengucapan, jelas perajin lebih mudah. Bayangkan anda mengucap pengrawan atau pengrampok. Susah bukan? Penulisan kata perajin pun lebih pendek jadi tidak memakan tempat saat di brosur atau spanduk. Lebih logis dan konsisten pula dengan kata lain.

Lalu mengapa di KBBI terdapat bentukan pengrajin yang disamakan dengan perajin? Kenapa harus ada kata pengrajin?

ra·jin a 1 suka bekerja (belajar dsb); getol; sungguh-sungguh bekerja; selalu berusaha giat: — lah belajar supaya naik kelas; 2 kerapkali; terus-menerus: ia — ke masjid;
me·ra·jin·kan v membuat (mengusahakan supaya) rajin: untuk ~ anak-anak dl bekerja, Ibu guru sering mengadakan perlombaan yg berhadiah;
~ diri mengusahakan benar-benar, mengusahakan diri sendiri agar rajin;
pe·ra·jin n 1 orang yg bersifat rajin: para ~ itu bekerja keras meningkatkan hasil kerjanya; 2sesuatu yg mendorong untuk menjadi rajin: perusahaan memberikan hadiah lebaran satu bulan gaji sbg ~ pegawai; 3 orang yg pekerjaannya (profesinya) membuat barang kerajinan;
peng·ra·jin n perajin;
ke·ra·jin·an n 1 perihal rajin; kegiatan; kegetolan: engkau tidak dapat menyamainya dl hal ~; barang yg dihasilkan melalui keterampilan tangan (spt tikar, anyaman, dsb): anyaman bambu merupakan hasil ~ daerah itu3 perusahaan (kecil) yg membuat; barang-barang sederhana, biasa mengandung unsur seni;
~ rumah tangga usaha kecil-kecilan yg dikerjakan di rumah; ~ tangan pekerjaan tangan (bukan mesin)

Jawabannya sepertinya sama seperti yang saya singgung kemarin. Karakteristik KBBI adalah merekam kata yang lazim dipakai oleh masyarakat Indonesia. Karena kata pengrajin kini sudah tidak kalah populer dengan kata perajin, kata pengrajin pun ‘terpaksa’ di adopsi oleh KBBI. Karena demokrasi itu memberikan kesempatan ke semua pihak khususnya yang didukung orang banyak, akhirnya kata pengrajin yang sudah punya massa pun dipromosikan.


Catatan :

Jangan lupa mengecek situs start-up kami ya di http://www.sandangindonesia.com. Tunggu Grand Launching tokonya pada tanggal 02 Oktober 2012. Dan bantu UKM dengan membeli langsung produk mereka melalui situs kami.

3 Comments

  1. Ping-balik: 5 Kata yang Sering Dipakai Berkebalikan 180 Derajat dengan Artinya | Blog Kemaren Siang

    • Kagak ah, jelas lebih gampang perajin, sama seperti mengucap peramal, perampok, perawan, peraga. Kenapa harus ada ng? Bukannya malah lebih susah diucap?
      Segi penulisan, perajin juga lebih mudah ditulis. Pendek dan berterima. Konsisten dengan kata lain pula.

      Makasih kunjungannya. Ayo buat blog juga. Hehe…
      Jangan lupa kunjungi blog Sandang indonesia juga ya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s