Diskusi dan Ide
Comments 6

Anda Lucu : Bahasa Itu Hidup dan Berkembang

Bahasa itu selayaknya mahluk hidup. Ia hidup. Ia lahir, tumbuh, dan berkembang. Jika tidak dirawat dengan baik, ia pun dapat mati. Google Endangered Language Project adalah salah satu proyek besar untuk mencegah hal yang terakhir ini terjadi. Ini adalah fakta yang seharusnya kita sadari bersama.

Bahasa Indonesia sendiri “berevolusi” dari bahasa Melayu sehingga tidak sepenuhnya salah jika mengatakan bahasa Indonesia diimpor dari Malaysia. Bahasa Melayu, bahasa Jawa, dan bahasa Sunda pun memiliki “ibu” yang sama yakni bahasa Proto Melayu. Pengguna bahasa Proto Melayu kemudian berpindah secara geografis dan mengalami kontak dengan penduduk lain sehingga masing-masing pengguna lokasi memiliki perubahan bahasa yang berbeda sehingga terjadilah bahasa-bahasa baru. Meskipun demikian, karena memiliki satu ibu, bahasa-bahasa baru tadi memiliki irisan kosakata yang sama dengan bahasa saudaranya.

Di semua literatur yang memberi penjelasan tentang bahasa Indonesia terdapat pernyataan bahwa “bahasa Indonesia adalah bahasa yang hidup” atau “bahasa Indonesia adalah bahasa yang terbuka”. Bahasa Indonesia dapat menghasilkan kata-kata baru, baik melalui proses penciptaan maupun peminjaman dan penyerapan dari bahasa daerah dan bahasa asing. Hampir separuh[citation needed] kosa kata bahasa Indonesia berasal dari bahasa asing.

Hal ini dapat berarti baik dan dapat pula berarti buruk. Baik karena berarti kita tidak perlu takut tidak dapat mengekspresikan sesuatu. Jika kata tersebut dari kata baru atau pinjaman bahasa lain, lama-lama bisa diserap juga. Buruk karena berarti jika penggunanya punya tendensi meminjam istilah asing dibanding istilah yang ada padanannya, bisa-bisa bahasa kita berubah dan bercampur dengan bahasa yang bersentuhan tadi. Dalam kasus penyerapan bahasa Inggris ke Indonesia yang makin marak di era informasi ini, lama-lama kita jadi bahasa Indolish nih, senasip dengan singlish dan japlish (baca: Pilih Kata yang Indonesiawi bukan Indolish).

Karena bahasa berkembang, kosakata yang dimilikinya pun berubah sesuai alur waktu. Sebuah kata dapat mengalami perubahan, peluasan, atau penyempitan makna. Contohnya kata ahli. Kata ahli berasal dari bahasa Arab yang kira-kira artinya pemegang atau anggota golongan. Misalnya, ahli sunnah berarti orang yang memegang sunnah, ahli kubur berarti orang yang tinggal di dalam kubur, dan ahli waris berarti orang yang berhak terhadap waris. Sekarang kata ahli menyempit maknanya menjadi pakar atau orang yang mahir/ menguasai ilmu. Ahli kimia adalah orang mahir dalam ilmu kimia. Kata lain yang mengalami hal ini misalnya sarjana, berlayar, dan saudara.

Kata juga mengalami perubahan rasa. Kata bini kini menjadi berkesan lebih rendah dibanding kata istri. Kata kaki-tangan dahulu berarti pembantu. Kini kata ini berkesan dan berhubungan dengan tindakan kriminal. Perubahan makna dan rasa kata ini bisa menjadi artikel sendiri yang sangat panjang. (boleh juga nih buat kapan-kapan)


Now, to the main point. (pakai bahasa Inggris agar jelas batasnya)

Pada saat masih bangku sekolah, kita sering diajari bahwa kata Anda adalah kata ganti orang kedua tunggal yang bermakna sopan alias konotasi halus. Biasanya kata Anda ini dipakai untuk menghormati lawan bicara. Pada kenyataannya, sekarang kata ini sudah sedikit bergeser kesan. Sekarang kata Anda memiliki kesan arogan sehingga sifat dasar sopan yang seharusnya dimilikinya kini hampir tidak ada. Dengan kata lain, konotasinya menjadi konotasi kasar. Singkatnya, orang yang disapa dengan kata Anda akan tersinggung.

Misalnya, hampir jarang kita temui sekarang pada rapat (bahkan yang formal sekalipun) seorang pembicara memanggil hadirin dengan kata AndaPada percapakan biasa antara dua orang entah akrab atau baru kenal pun penggunaan kata Anda menjadi sangat tabu. Bisa jadi kata Anda lebih tidak sopan dibanding kata kamu. Selain ragam tulisan, mungkin kata ini kini hanya dipakai untuk panggilan seseorang yang lebih tinggi ke lawan bicara yang lebih rendah. Penggunaan kata sapa langsung seperti Bapak, Ibu atau Mas, Mbak kini lebih gemar digunakan dibanding kata Anda. Bahkan akibat bergesernya kesan kata Anda ini, pernah terdapat insiden yang melibatkan pelaporan guru oleh orangtua murid kepada kepala sekolahnya (Intisari, Maret 2007).

Kalau kata Anda di atas mengalami perubahan rasa, kata lain yang sepertinya memiliki perubahan rasa atau makna adalah  kata lucu. Tanpa merasa janggal sedikitpun, sekarang kita bisa mengatakan “Ya ampun. Bayinya lucu ya…“. Lebih parah lagi “Wow, bajumu lucu. Beli dimana?” atau “Loh, kok pakai font yang lucu sih!” atau bahkan “Idih, rumahnya lucu“. Apakah itu berarti bayinya jenaka? Bajunya, font-nya, rumahnya, membuat orang tertawa? Menggelikan? Saya rasa tidak dan saya tidak mengerti yang dimaksud lucu disini apa karena maknanya belum terekam di KBBI (setidaknya yang online). Tebakan saya sih arti kata funny dan kata cute sudah melebur jadi satu sambil mengesampingkan kata imutHey, kata imut juga belum ada di KBBI gan! Yang ada adalah kata imut-imut. Hmm…

Perubahan yang dialami oleh kata Anda dan lucu di atas sepertinya baru dalam ranah lapangan belum teori. Terlepas dari “sudah resmi” atau belumnya dan sudah tercatat atau belumnya perubahan rasa kata Anda di atas, perubahan di atas adalah fakta lapangan. Yang harus kita perhatikan sebagai pengguna bahasa adalah seketat apa pun penetapan makna kata atau tata cara penggunaan kata dalam kamus dan Pedoman EYD, bahasa itu berfungsi untuk komunikasi antar penggunanya. Ketetapan hanyalah penolong saja. Jika ada kata yang tidak lagi sesuai dengan makna lapangan, makna kamus akan diganti. Jika ada kata baru, kata itu akan ditambah dalam kamus. (Makanya kalau kita sering menyerap bahasa Inggris seenaknya, bisa-bisa bahasa kita lama-lama jadi Indolish)

Dua contoh sebelumnya adalah contoh yang dapat ditoleransi dan mungkin berpeluang bernasib sama seperti kata ahli, sarjana, dan berlayar yang sebelumnya dijelaskan: kamus akan disesuaikan dengan lapangan. Sayangnya, perubahan dan pergeseran makna ini tidak selalu memiliki manfaat. Beberapa perubahan lainnya merupakan murni kesalahan.

Misalnya, penggunakan kata secara. Kata ini sekarang seolah-olah memiliki makna tambahan baru (meluas maknanya) yakni makna karena. Berikut adalah salah satu paragraf yang saya ambil dari salah satu media opini massa :

Kaum agamawan tentunya harus mendapatkan jaminan yang lebih dari mereka, secara, mereka tidak hanya mengajarkan kebaikan untuk dunia, tapi lebih banyak ttg akhirat yg notabene adalah kesejahteraan yang sesungguhnya.

Jelas bahwa kata secara pada pagragraf di atas adalah salah tempat. Penyalahgunaan kata secara ini lebih didominasi oleh anak-anak muda khususnya yang menyebut diri mereka anak gaul. “Ya iya lah, gue suka dia secara dia kan lebih ganteng…” Tentu saja saya tidak dapat menerima bahwa pemakaian kata secara yang seperti ini digolongkan sebagai perluasan makna kata. Secara, kan udah ada kata karena gitu loh bok! Sama sekali tidak ada alasan mengganti kata karena dengan kata secara. Parahnya, penulis dan beberapa tokoh figur malah mempromosikan kata-kata ini pada radio, televisi, atau media cetak/elektronik sehingga makin membingungkan para pengguna bahasa.

Contoh lain adalah pertukaran kata kami dan kata kita. Bahasa Indonesia adalah bahasa yang unik karena memiliki kedua kata ini. Jarang ada bahasa lain yang punya kemampuan ini. Kata kami adalah kata tunjuk orang yang digunakan pada saat lawan bicara tidak termasuk dengan yang ditunjuk. Kata kita adalah kata tunjuk orang yang mengikutsertakan lawan bicara. Entah mengapa, orang-orang yang mengaku gaul tadi mempercampurkan kedua kata ini. Keduanya diganti dengan kata kita.

Iya bu. Bukan salah kita dong kita pada telat. Wong, emang belnya yang bunyinya telat.

Kalimat di atas memiliki dua kesalahan. Satu, pembicara mengikutkan ibu guru sebagai orang yang telat padahal dia sedang memberi alasan. Dua, alasannya salah. Kalau belnya telat, seharusnya mereka jadi punya waktu yang lebih luang untuk masuk tepat waktu alias sebelum bel berbunyi.

Tanpa alasan yang jelas mereka meluaskan kata kita. Apakah ini termasuk perluasan makna kata? Saya rasa tidak. Ini adalah kesalahan yang perlu tindak lanjut yang serius. Kesalahan penggunaan kata lain dapat dibaca pada theposkamling.com.

Dalam artikel yang lebih jelas tentang kehidupan suatu bahasa berjudul “Bahasa adalah Sesuatu yang Hidup“, terdapat dua sudut pandang dalam memandang perubahan bahasa ini: sudut pandang preskriptif dan deksriptif. Orang yang bersudut pandang preskriptif terpaku pada resep. Dengan demikian, mereka biasanya mengkritik keras terhadap penyelewengan kebahasaan ini. Mereka sering mengganggap generasi muda suka menyalahgunakan bahasa sehingga menjadi salah kaprah. Orang yang bersudut pandang deskriptif jarang menganggap itu salah dan ini benar. Mereka lebih tertarik mengamati fenomena yang ada dan memerikannya.

Namun, seperti yang ditulis pada artikel tersebut, kedua sudut pandang ini adalah sudut pandang yang sah-sah saja dan saling melengkapi.

Yang berpandangan preskriptif berguna untuk pembakuan dan menjaga standardisasi bahasa, sementara yang berpandangan deksriptif berperan sebagai pengamat yang membuat rumusan-rumusan perubahan yang terjadi tanpa perlu melabeli “benar” atau “salah”. Yang jelas, sudut pandang manapun yang kita ambil, mari kita hormati kawan dengan sudut pandang yang berbeda.

Saya sendiri bingung ingin berpihak pada sudut pandang yang mana. Di satu sisi, saya ingin melihat “mengapa ini terjadi” dan mengakomodasi perubahan yang sudah terlanjur ada, misalnya pada kata Anda dan lucu tadi. Di sisi lain, saya juga tidak rela anak-anak gaul tersebut semakin menggerogoti bahasa kita dengan alterasi makna kata dan serapan asing sembarangannya.

Yang jelas, intinya bahasa adalah hidup. Kehidupan bahasa bergantung pada pemakaianya. Seberapa pun bahasa ditetapkan cara penggunaannya yakni yang mana yang benar (baku) dan yang mana yang tidak, bahasa akan berubah jika penggunanya merasa bahasanya kurang mengekspresikan diri mereka. Jika bahasa yang dipakai masyarakat berubah, peraturan bahasa akan diubah pula.

Baik menggunakan bahasa berarti kita memberi kehidupan yang sehat dan konsisten kepada bahasa. Buruk menggunakan bahasa berarti kita menyiksa dan mengombang-ambingkan bahasa kita dengan resiko rusaknya bahasa meskipun ada peluang (kecil) untuk mengevolusi bahasa lebih jauh.

6 Comments

  1. Marv Morten says

    Ternyata benar apa yang dikatakan pemerintah Korea Utara: “(Beberapa) hal-hal asing dapat mengganggu stabilitas dalam negeri (suatu negara).” Di sana, penyerapan kosa kata asing sangat dibatasi di Korea Utara. Penyerapan kosa kata asing hanya diberlakukan bagi kosa kata yang tidak mempunyai diksi asli Korea. Selain itu, seseorang dapat ditangkap dan dipidana/kriminalisasikan hanya karena penggunaan bahasa yang salah. Contoh: Si A berkata: “Lo gak dianggap!” padahal tatanan bakunya “Kamu tidak diakui!” Jika itu dilakukan di Korea Utara, maka siap-siap ditangkap dan dijebloskan dalam kamp kerja paksa seumur hidup (tidak bisa keluar lagi). Jadi, perkataan Korea Utara yang saya kutip di atas telah terjadi di Indonesia. Aduh malangnya…

  2. samudera-samudera says

    (maaf sebelumnya komentar saya tidak menggunakan bahasa baku)
    iya bener banget. kadang bingung juga tentang permasalahan kayak gini. temenku yang jurusannya Bahasa Indonesia aja bingung juga. mau pake bahasa baku tapi kurang paham. kalo pake bahasa yg resmi, gak enak juga di pergaulan. belum lagi ada bahasa daerah yang menuntut untuk dilestarikan. padahal bahasa daerahku sendiri bahasa Jawa. dan bahasa Jawa sendiri ada tiga tingkatan bahasa.terus bahasa Inggris juga ngomong penting dengan alasan globalisasi. Wah gila… berapa banyak bahasa yang harus dikuasai, hehehehe.
    tapi untuk kata “kita” dan “kami”, aku jadi geli karena teringat parodi di teve(bukan tivi kan kayaknya). parodi yang seperti ini:”kita? elo aja kali, gue nggak!”. mungkin parodi ini memberikan pelajaran berharga bahwa kita dan kami berbeda.
    tapi aku sendiri setuju jika bahasa itu hidup dan menyerap kosa kata baru. kalo g percaya lihat tuh bahasa sansekerta, bahasa latin. sebernarnya bahasa-bahasa itu udah berkembangjadi bahasa yang sekarang. yah daripada punah lebih baik berkembang kan?
    entah deh. bingung juga aku.

  3. icukprayogi says

    Berdasarkan tulisan Anda di atas, tampak jelas bahwa Anda cenderung preskriptivis. Gampang sekali untuk mengetahuinya, yakni dengan pandangan Anda dengan terminologi BENAR >< KURANG TEPAT dan mencari tahu penyebab ketidaktepatan tersebut.🙂
    Oya, deskriptivis seperti saya lebih tertarik membaca buku linguistik historis komparatif supaya dapat dengan jelas melihat cara-cara sebuah bahasa berubah dibandingkan mencari "kesalahan" berbahasa. Sebagai contoh, kata pengantar verba: "adalah", "ialah", dan "merupakan" merupakan kata-kata bentukan karena konstruksi kopulatif sebelum era Belanda datang, belumlah dikenal di Nusantara, bahkan di seluruh Austronesia. Atau, Anda boleh mencari tahu penyebab berubahnya struktur VSO dalam bahasa Melayu kuno menjadi SVO dalam Melayu modern, yang ternyata perubahannya lebih cenderung karena desakan internal bahasa Melayu sendiri, bukan karena pengaruh bahasa lain.
    Untuk ragam gaul atau pemakaian bahasa Inggris yang menggejala luas, kami tidak mengatakan baik-buruknya, tetapi faktanya, masyarakat memang menganggap bahasa Inggris (dan banyak bahasa asing lainnya) mempunyai prestise tinggi, mengalahkan bahasa Indonesia, apa lagi bahasa daerah. Bolehlah Anda melakukan penelitian kecil-kecilan untuk membuktikannya. Kalau ditanya gurunya, si murid lebih suka menjawab CINTA BAHASA INDONESIA, tapi sepertinya cuma di mulut belaka; buktinya, ketika sudah masuk masa kuliah, mereka lebih suka mempelajari bahasa asing ketimbang bahasa Indonesia, atau bahasa daerah. Padahal, pendeskripsian bahasa-bahasa di Nusantara belum ada yang selesai dan memuaskan semua pihak.

    Kalau ditanya tetangganya: "Kamu kuliah di jurusan apa?" dan dijawab "Sastra Indonesia" pasti kesan dan tanggapan si tetangga akan berbeda dengan jawaban "Sastra Prancis" atau "Sastra Inggris". Faktanya memang begitu.

    Karena Anda berpandangan preskriptivis, lebih baik khawatirkan keselamatkan bahasa daerah. Sebagian besar dari 741 bahasa daerah di Indonesia telah mengalami perubahan masif karena terpengaruh bahasa Indonesia, dan ditakutkan mati karena mulai ditinggalkan pemakainya. Di kota-kota di Papua contohnya, sebagian besar orang di bawah usia 35 tahun sudah tidak tahu dan tidak pernah memakai bahasa nenek moyangnya sendiri karena menganggap bahasa leluhurnya adalah bahasa yang kampungan.

  4. Ping-balik: 5 Kata yang Sering Dipakai Berkebalikan 180 Derajat dengan Artinya | Blog Kemaren Siang

  5. Ping-balik: Pengrajin dan Perajin : Satu Lagi Kesalahan yang Dibenarkan | Blog Kemaren Siang

  6. emang repot bed kalo mau ingetin anak-anak untuk pake bahasa lokal yang tepat. yang mahasiswa aja kadang bingung nyari padanan kata dari bahasa inggris kan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s